Sejarah
Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Darul Amien Nagara
Living Laboratory pertama FASTER2LEAD — mendidik santri dengan akhlak dan kepemimpinan.
Didirikan
9 September 1996
25 Rabiul Akhir 1417 H
Lokasi
Nagara
Nama Lengkap
Pondok Pesantren Darul Amien Tarbiyatul Mu'allimin wal Mu'allimat Al-Islamiyah
Sebuah Perjuangan yang Lahir dari Keikhlasan
Setiap lembaga besar selalu memiliki sejarah yang penuh perjuangan. Begitu pula Pondok Pesantren Darul Amien. Pondok ini tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari cita-cita mulia, pengorbanan, dan pertolongan Allah SWT.
Kisah ini bermula dari seorang dermawan, Almarhum H. M. Ilmi, yang bercita-cita membangun sebuah pondok pesantren modern di Desa Teluk Haur, Daha Utara. Untuk mewujudkan impian tersebut, beliau mengajak KH. Khairullah Djamhari dan mendatangkan tiga orang ustaz alumni Pondok Pesantren Modern Al-Amien Prenduan Madura, yaitu Ust. Syamlan Marni, Ust. Rusydani, dan Ust. Ahmadi, agar menyusun sistem pendidikan yang berkualitas.
Namun, sebelum cita-cita itu selesai terwujud, Allah SWT memanggil H. M. Ilmi ke hadirat-Nya.
Amanah yang Dilanjutkan
Kepergian beliau tidak menghentikan perjuangan. KH. Khairullah Djamhari merasa memiliki amanah untuk melanjutkan cita-cita tersebut. Bersama Ust. Muhammad Idris, beliau meneruskan pembangunan pondok hingga selesai.
Para pendiri kemudian bermusyawarah dan sepakat menggabungkan dua sistem pendidikan terbaik saat itu, yaitu tradisi keilmuan Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan sistem modern Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Madura. Perpaduan inilah yang menjadi dasar pendidikan Darul Amien.
Hijrah demi Menjaga Nilai
Seiring waktu, muncul berbagai perbedaan dalam pengelolaan pondok sehingga suasana tidak lagi kondusif. Demi menjaga persatuan dan cita-cita pendidikan, empat tokoh utama — KH. Khairullah Djamhari, Ust. Muhammad Idris, Ust. Syamlan Marni, dan Ust. Rusydani — memutuskan berhijrah ke Desa Teluk Labak.
Mereka tidak mengajak siapa pun untuk ikut. Namun karena ketulusan mereka dalam mendidik, para santri dengan kesadaran sendiri memilih mengikuti guru-guru yang mereka cintai.
Peristiwa ini sempat menimbulkan kesalahpahaman hingga melibatkan pihak kecamatan, kepolisian, dan tokoh masyarakat. Setelah para santri dimintai keterangan secara langsung, mereka dengan tegas menyatakan bahwa keputusan berpindah adalah murni keinginan mereka sendiri, tanpa ajakan ataupun paksaan dari siapa pun. Dengan demikian, persoalan pun selesai.
Awal yang Sangat Sederhana
Selama kurang lebih tiga bulan, proses belajar mengajar dilaksanakan di Musholla Darul Akbar, di rumah KH. Khairullah Djamhari, di Rumah Ayahanda Ust. Muhammad Idris dan di rumah Ibu Jamilah.
Di tempat yang sederhana itulah muncul tekad besar untuk mendirikan pondok pesantren baru. Para pendiri kemudian bermusyawarah dengan kepala desa dan tokoh masyarakat Teluk Labak. Mereka menyampaikan niat membangun sebuah pesantren yang dapat menjadi pusat pendidikan Islam bagi generasi mendatang.
Masyarakat menyambut gagasan tersebut dengan penuh semangat. Mereka bergotong royong memberikan tenaga, pikiran, doa, bahkan harta yang dimiliki.
Lahirnya Pondok Pesantren Darul Amien
Dengan bekal keikhlasan, qana'ah, tawakal kepada Allah SWT, dan semangat beribadah serta menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi, lahirlah sebuah pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Darul Amien Tarbiyatul Mu'allimin wal Mu'allimat Al-Islamiyah.
Saat itu belum ada gedung yang megah. Kegiatan belajar masih berlangsung di musholla dan halaman rumah. Namun keterbatasan tidak pernah mengurangi semangat para pendiri, guru, santri, dan masyarakat untuk membangun masa depan.
Pembangunan pondok dilakukan secara gotong royong. Hujan maupun panas tidak menjadi alasan untuk berhenti berjuang.
Makna Nama "Darul Amien"
Nama "Darul Amien" pertama kali digagas oleh Almarhum Ust. Rusydani, yang kemudian wafat sebelum sempat menyaksikan perkembangan pondok ini.
Secara harfiah, Darul Amien berarti "Rumah Orang-Orang yang Dapat Dipercaya." Nama ini menjadi doa agar seluruh santri dan alumninya tumbuh menjadi pribadi yang amanah, dipercaya masyarakat, dan mendapat ridha Allah SWT dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama.
Secara historis, nama Darul Amien merupakan perpaduan dua pesantren besar tempat para pendirinya menimba ilmu, yaitu Darussalam Martapura dan Al-Amien Prenduan Madura. Nama tersebut menjadi simbol harapan agar nilai-nilai luhur dari kedua pesantren itu tumbuh dan berkembang di Darul Amien.
Terus Bertumbuh dan Mengabdi
Walaupun usianya masih relatif muda, Pondok Pesantren Darul Amien terus berkembang dan semakin dipercaya masyarakat. Santri yang belajar tidak hanya berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Selatan, tetapi juga dari berbagai daerah di Kalimantan bahkan luar provinsi.
Hingga hari ini, Darul Amien terus berkomitmen menjalankan amanahnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang melahirkan kader pemimpin unggul yang beriman sempurna, berilmu luas dan beramal sejati, serta siap mengabdi dan memberi manfaat kepada agama, bangsa, masyarakat dan ummat (rahmatan lil alamin).
“Darul Amien lahir bukan karena banyaknya harta, tetapi karena besarnya amanah. Tumbuh bukan karena kuatnya bangunan, tetapi karena kuatnya keikhlasan. Dan perjuangan akan terus hidup selama nilai karakter kerasulan (FASTER) tetap diwariskan kepada setiap generasi.”